Jumat, 15 Februari 2008

Tradisi

KOMPAS
Kamis, 16 Februari 2006

Tradisi Melayu-Bengkulu (1)
DAN, TABOT SAKRAL ITU PUN PATAH

Oleh Kenedi Nurhan


Tabot sakral dengan nomor urut 12 itu patah! Siapa peduli? Para keluarga pengusungnya tetap saja mengarak 'sang tabot' dalam prosesi ritual menyusuri jalan-jalan utama Kota Bengkulu, di bawah terik matahari siang, hingga ke 'tempat pembuangan' akhir di lokasi pemakaman Karabela di kawasan Padang Jati.

Tentu saja ini bukan peristiwa luar biasa, apalagi bagi masyarakat Bengkulu pada umumnya. Tabot-umumnya berbentuk menara masjid, tetapi ada juga yang mirip bangunan pagoda-yang terbuat dari campuran papan tripleks berlapis kertas aneka warna itu patah terkena ranting pohon, tersenggol kabel listrik yang silang-menyilang tak beraturan di atas badan jalan, atau sekalian hancur berserak, justru jadi semacam tontonan 'penyegar'.

Kata 'sakral' yang melekat dalam prosesi ritual tabot, yang
selalu diselenggarakan pada 1-10 Muharram tahun Hijriah (tahun ini
bertepatan dengan 31 Januari-9 Februari 2006), tampaknya sudah
kehilangan makna. Dengan munculnya apa yang kemudian dikenal
sebagai tabot pembangunan, yang dalam prosesi itu mengiring 17 tabot
sakral, barangkali bisa dibaca sebagai bentuk lain dari kian cairnya
sakralitas di balik ritual adat tersebut.

Ritus yang sudah menjadi tradisi sebagian masyarakat Bengkulu
untuk mengenang peristiwa tragis kematian cucu Nabi Muhammad SAW,
Husein bin Ali bin Abi Thalib, dalam suatu pertempuran tak seimbang
dengan orang-orang dari Bani Umaiyyah di Padang Karbala (wilayah
Irak sekarang), sejak beberapa tahun terakhir harus diakui memang
sudah bergeser menjadi sekadar pesta tahunan masyarakat Bengkulu.
Bahkan, sakralitas itu sudah mulai meluntur pada sebagian keluarga inti
yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Tabot itu sendiri.

Di luar sembilan tahapan acara ritual tabot yang sudah melekat
sejak dua abad silam tersebut, seperti mengambik tanah (mengambil
tanah) pada tanggal 1 Muharram; duduk penja (mencuci benda ber-
bentuk telapak tangan manusia) pada 4 Muharram; menjara (saling
berkunjung pada malam hari sebagai simbol persiapan 'perang') pada 6
dan 7 Muharram; arak gedang (membawa tabot ke tanah lapang) pada
9 Muharram; hingga prosesi tabot tebuang (arak-arakan tabot menuju
tempat pembuangan) pada 10 Muharram, bisa dikatakan bahwa upacara
tabot sudah menjadi semacam seni pertunjukan dalam pengertian yang
sesungguhnya.

Alhasil, ritus-ritus yang menyertainya pun dengan sendirinya
sebagian besar murni sebagai tontonan. Termasuk di dalamnya
keberadaan arena 'pameran pembangunan' dan pasar malam di pusat
kegiatan festival di Lapangan Merdeka Bengkulu, yang justru lebih
banyak menyedot perhatian khalayak pengunjung.

Apa yang kemudian disebut Festival Tabot sebagai peristiwa budaya
pada akhirnya adalah pesta rakyat. Aspek ritual yang semula
melandasinya, yang pada awalnya adalah pusat dari segala upacara
tradisi itu, kini malah terkesan hanya pelengkap.

Sebaliknya, berbagai lomba dan atraksi budaya macam musik dol,
tari, telong-telong (sejenis lampion dalam aneka bentuk) dan
permainan ikan-ikanan, juga digelarnya arena pasar malam selama
festival berlangsung, justru kini masuk ke tengah. Bumbu pelengkap
itu malah jadihidangan sekaligus 'santapan' utama dalam kenduri
rakyat Bengkulu tersebut.

Dalam banyak hal, Festival Tabot kini tak ubahnya seperti Jakarta
Fair di kawasan eks Bandara Kemayoran bagi warga Jakarta, atau
Festival Sriwijaya di ibu kota provinsi tetangganya: Palembang!

"Bagi warga Bengkulu yang haus akan hiburan, kemeriahan itulah
yang memang jadi tujuan utama," kata Mantaha, salah satu anggota
komunitas Kerukunan Keluarga Tabot Bengkulu dari Kampung Pondok Besi.

Pergeseran makna

Tak ada catatan tertulis sejak kapan upacara tabot mulai dikenal
di Bengkulu. Namun, disebut-sebut bahwa tradisi yang berangkat dari
upacara berkabung para penganut paham Syi'ah ini mulai ada sejak
pembangunan Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu.

Tradisi ini dibawa oleh para tukang yang didatangkan Inggris dari
Madras dan Bengali di bagian selatan India, kemudian diwariskan
kepada anak cucu mereka yang telah berasimilasi dengan orang
Bengkulu. Warga keturunan yang sudah berasimilasi dengan penduduk
asli Bengkulu itu kini dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai.

Di berbagai belahan dunia lain, upacara berkabung semacam ini
dikenal dengan sebutan Hari Assyura. Di Irak misalnya, pada puncak
Hari Assyura pada 10 Muharram, kaum Syi'ah mengagungkan penggalan
sejarah yang terjadi pada tahun 61 Hijriah atau 681 Masehi itu dengan
cara yang tergolong amat fanatik, bahkan dengan cara menyakiti diri
mereka sendiri.

Tidak demikian halnya di Bengkulu. Sejak orang-orang Sipai lepas
dari pengaruh ajaran Syi'ah, lewat upacara tabot, peringatan atas
gugurnya Husein bin Ali bin Abi Thalib dimaknai sekadar kewajiban
keluarga untuk memenuhi wasiat dari leluhur mereka. Belakangan, sejak
satu dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini
juga dimaksudkan sebagai wujud dari peran serta orang-orang Sipai
untuk berpartisipasi dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah
(baca; Bengkulu) setempat.

Terlepas dari adanya pergeseran makna dan tujuannya, inti dari
upacara tabot itu sendiri pada awalnya adalah untuk mengenang upaya
para pemimpin Syi'ah dan kaumnya yang mengumpulkan bagian-bagian
dari jenazah Husein bin Ali bin Abi Thalib, mengaraknya, serta
memakamkannya di Padang Karbala. Seluruh prosesi itu berlangsung
selama 10 hari (1-10 Muharram). Dimulai dari prosesi mengambik tanah
pada 1 Muharram (di dua tempat yang dianggap keramat: Tapak Padri dan
Anggut), kemudian diakhiri prosesi penutup yang mereka sebut tabot
tebuang pada 10 Muharram.

Lokasi akhir acara ritual ini berlangsung tengah hari di Tempat
Pemakaman Umum Karabela di kawasan Padang Jati, Bengkulu. Kawasan ini
dipilih karena mereka yakin sebagai tempat Imam Senggolo alias Syekh
Burhanuddin (orang yang disebut- sebut pelopor upacara tabot di
Bengukulu) dimakamkan.

Sebuah pertanda?

Boleh jadi tak banyak orang yang peduli atas fenomena sosiologis
bergesernya makna, fungsi, dan tujuan upacara ritual tabot di
Bengkulu. Apalagi terhadap peristiwa kecil berupa patahnya tabot
sakral nomor urut 12, satu di antara 17 buah tabot yang sudah di-
"baku"-kan jumlahnya; mewakili 17 keluarga yang diyakini punya
hubungan kekerabatan langsung dengan "Sang Pemula": Imam Senggolo!

Namun, ketika masih ada yang mau mengarifi adanya makna simbolik
di balik upacara ritual tabot (meminjam ungkapan Agus Setiyanto dari
Universitas Bengkulu), patahnya tabot sakral dalam suatu prosesi
agung bisa ditafsirkan juga memberi makna simbolik. Paling tidak
terhadap sakralitas ritual tabot itu sendiri, yang kini tak ubahnya
seperti produk budaya pada umumnya yang profan.

Saratnya misi yang diemban oleh kepentingan di luar hal-hal
berbau ritual membuat segala sesuatu yang beraroma sakral
terpinggirkan. Di sini terjadi semacam 'pertempuran' yang tak kalah
dahsyat dalam pencitraan,yang untuk saat ini tampaknya dimenangkan
oleh produk budaya profan.

"Akibatnya, substansi dari budaya tabot yang merupakan
simbolisasi dari sebuah keprihatinan sosial cenderung terlupakan. Ini
baru satu hal. Masih ada sejumlah kearifan sosial lain yangbelum
tergarap di tengah makin semaraknya pesta budaya tabot," kata Agus
Setiyanto.

Terlepas dari adanya pandangan bahwa ritual tabot mengandung
unsur penyimpangan dalam akidah, seperti penggunaan mantera-mantera
dan ayat- ayat suci dalam prosesi mengambik tanah, namun esensi dari
ritual ini justru mengingatkan manusia akan praktik penghalalan
segala cara untuk menuju puncak kekuasaan. Dan, dalam kekinian kita
sebagai bangsa, sakralitas dalam memahami simbol-simbol kearifan
budaya itu mestinya harus dijaga. Bukan sebaliknya!

Ironisnya, dalam keseharian kita sebagai bangsa pun ternyata kian
banyak hal yang semula dianggap 'sakral' tiba-tiba kehilangan
sakralitasnya. Mahkamah Agung tiba-tiba menjadi bahan olok-olok di
warung kopi, lembaga kepresidenan dijadikan bahan parodi dalam sebuah
acara televisi, anggota DPR yang berkunjung ke Mesir disindir
berziarah ke makam guru mereka bernama Firaun, dan masih banyak yang
lainnya.

Apa boleh buat. Itulah wajah (budaya) kita hari ini.

class="fullpost">

Tidak ada komentar: