Selasa, 19 Februari 2008

Pendidikan

KOMPAS
Senin, 15 Mei 2005

Pendidikan di Pedalaman Papua
"BELEKUNA" INDONESIA...

Oleh Kenedi Nurhan

A uram deyok aryi, Dorik ilil kuboka sirim talebmar. Ninyi aryi
bai bisam oraming dinyi ara Dorik sirya bikmar. Ninyi aryi, obingyi ura, sekoka yubdi yiraming
. (Dorik menggigil. Hal itu menakutkannya. Dia tahu apa yang terjadi apabila tertangkap. Kalau tertangkap, dipotong dan dimakan manusia...).

Buku dalam tiga bahasa itu dibiarkan tergeletak di depan Hannah Mallo (26). Bai Bisam si Ara Dorik, begitu judul yang tertera di
kulit depan buku berwarna oranye itu.

Siang itu Hannah Mallo sedang membantu "anak didik"-nya belajar
mengenal huruf lewat cerita tentang si babi hutan bernama si Dorik.
Buku yang ditulis dengan huruf Latin menggunakan bahasa Una itu
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Dorik si Babi Hutan.
Di lembaran bagian akhir ada terjemahan dalam bahasa Inggris, berikut
narasinya: Dug-Dug The Wild Pig.

Jangan membayangkan apa yang dilakukan Hannah Mallo seperti
layaknya guru TK di perkotaan. Sebagai tenaga sukarela yang
membantu program keaksaraan di Langda, sebuah perkampungan
sangat terpencil di salah satu lereng Pegunungan Jayawijaya pada
ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut, Hannah Mallo bahkan
tidak tamat SD. Bahkan, sebelum mengenal huruf, ia pun pernah duduk
sebagai warga belajar keaksaraan dasar, seperti "anak didik"-nya sekarang.

Kerja yang ia geluti sejak enam tahun lalu itu hanya bermodalkan
pelatihan terprogram dari SIL Internasional-Indonesia yang
berkedudukan di Wamena. Bersama Yayasan Pelayanan Sosial
Masyarakat Indonesia dan Gereja Jemaat Protestan Indonesia Wamena,
program pemberantasan buta huruf di pedalaman Papua yang dirintis
sejak 1989 dan baru beroperasi tahun 1994 ini adalah cerita panjang
tentang upaya menaikkan harkat kemanusiaan orang-orang pedalaman.

"Harus diakui bahwa pekerjaan ini tidak mudah, tetapi kamisenang
melakukannya. Sebelum sampai pada tahap seperti sekarang, kami
terlebih dahulu melakukan serangkaian penelitian tentang bahasa-
bahasa lokal di sini. Mempelajari bahasa-bahasa di Papua, juga
bahasa Una yang digunakan di Langda dan sekitarnya, ternyata sulit,"
sekali kata Dick Kroneman, ahli bahasa dari Belanda yang bekerja
sebagai konsultan bahasa untuk SIL Internasional-Indonesia.

Terpencil di dunia

Para penutur bahasa Una di Langda dan sekitarnya itu hidup di
antara tebing-tebing curam di Pegunungan Jayawijaya. Satu-satunya
jalur masuk hanya melalui udara. Itu pun jadwalnya tidak pasti. Jika
cuaca terang dengan sedikit kabut, pesawat kecil macam Filatus Porter
harus terbang sekitar 45 menit dari Wamena untuk mencapai Langda.

SIL Internasional-sebuah lembaga pelayanan nonprofit yang
memfasilitasi pengembangan masyarakat yang berbasis bahasa di 50
negara di seluruh dunia-mengidentifikasi wilayah hunian masyarakat
pengguna bahasa Una sebagai salah satu wilayah paling terpencil di
dunia. Bahkan, untuk mengunjungi antarkampung di Langda, Bomela, dan
Sumtamon saja begitu sulitnya.

"Hingga tahun 1973 orang di sini masih ada yang makan manusia.
Selalu ada perang antarmereka. Sekarang? Kadang-kadang orang juga
marah, tapi itu untuk sementara saja," kata Dick menambahkan.

Sejak program keaksaraan dasar dimulai tahun 1994, hasilnya sudah
menunjukkan ke arah yang menggembirakan. Jika semula hanya 15 persen
yang mengenal aksara Latin, kini sudah dua kali lipat. Ratusan anak-
anak sudah menikmati bangku sekolah. Bahkan, beberapa di antaranya
ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Meski baru sebatas program
diploma II di Universitas Cenderawasih, apa yang dialami Sibet Nabyal
(28), yang kini ikut membantu program keaksaraan di kampung
kelahirannya itu, sangat membanggakan warga setempat.

Jargon pemberdayaan yang kerap digaungkan oleh berbagai pihak,
entah dari pemerintah maupun aktivis lembaga swadaya masyarakat,
menemukan bentuknya di Langda. Tanpa perlu merasa mengusung gagasan-
gagasan besar tentang pemberdayaan, mereka sudah memulai usaha kecil
yang sungguh sangat berarti. Setelah lebih dari 15 tahun berjalan,
angka melek huruf meningkat, gedung sekolah pun sudah berdiri, dan
fasilitas air bersih juga tersedia.

Sadar diri

Dick Kroneman memang tak seoptimistis Mendiknas Bambang Sudibyo
dalam hal pemberantasan buta huruf. Jika Bambang yakin mampu
menyelesaikan kerja besar ini (tentu saja berskala nasional) selama
masa jabatannya sebagai Mendiknas,untuk memelekhurufkan "hanya"
sekitar 5.400 anggota masyarakat Una di Langda dan sekitarnya, Dick
mengaku butuh waktu hingga 15 tahun. "Kami harus sadar diri. Membuat
suatu perubahan itu tidak gampang. Perlu waktu dan bertahap,"
katanya.

Dan, itu diiyakan oleh Sibet Nabyal, juga Hannah Mallo dan Doke
Kesamlu (24). Ketiganya adalah tutor keaksaraan di Langda. "Metode
pengenalan huruf, kemudian membaca dan menulis, perlu ketekunan dan
kesabaran," kata Sibet Nabyal.

Hasilnya memang tidak langsung jadi. Dalam belajar membaca,
misalnya, pertama-tama lewat pengenalan gambar. Huruf-huruf disusun
berdasarkan kata dalam bahasa Una. Yang diajarkan adalah bunyi, di
mana dalam ejaan bahasa Una hanya terdapat 18 huruf.

Cerita tentang babi hutan, seperti kutipan di awal tulisan ini,
adalah upaya mereka mendekatkan anak-anak dengan keseharian mereka.
Begitu pun ucapan belekuna, yang berarti selamat pagi, kini jadi
bagian dari ritual hidup mereka.

Seperti ketika Gerson Kayo (14) menyapa tamunya di pagi itu,
sapaan "Belekuna, Bapak" terasa mengiris ulu hati. Itu karena
diikuti dengan cerita Gerson yang ingin sekolah ke Wamena, tetapi
gagal lantaran ia tak punya cukup uang. Ia ingin melihat Indonesia
dari jendela ilmu yang lebih luas. Akan tetapi, ia hanya bisa berucap
lirih, "Belekuna Indonesia...."

class="fullpost">

Tidak ada komentar: